Kisah Nabi Ismail : Cerita 25 Nabi Dan Rasul

Nabi Ismail AS. adalah anak pertama dari Nabi Ibrahim dari istrinya yang kedua yang bernama Siti Hajar. Siti Hajar adalah budak yang diberikan oleh Raja Mesir kepada Nabi Ibrahim AS. Dari semenjak kecil hingga dewasa Siti Hajar dipelihara oleh Nabi Ibrahim AS. hingga suatu hari istrinya yang bernama Siti Sarah memintanya untuk menikahi Siti Hajar karena walaupun telah lama menikah tetapi mereka belum juga dikaruniai anak, ia berharap Siti Hajar bisa memberikan anak kepada Nabi Ibrahim.

Setelah beberapa lama menikah, akhirnya Siti Hajar mengandung, kemudian melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Ismail. Setelah kelahiran Ismail, Siti Sarah merasa bahwa Nabi Ibrahim lebih dekat kepada Siti Hajar dan putranya Ismail. Hal ini membuatnya cemburu dan akhirnya meminta kepada Nabi Ibrahim untuk menjauhkan mereka dan berpindah tempat.

Kemudian Allah yang maha Kuasa memerintahkan kepada Ibrahim supaya keinginan istrinya tersebut dipenuhi-nya. 

Cerita 25 Nabi Dan Rasul Kisah Nabi Ismail

Kemudian Nabi Ibrahim AS. membawa istrinya (Siti Hajar) dan Ismail yang masih bayi ke Mekkah yang pada waktu itu masih merupakan padang pasir kosong yang belum di tinggali oleh manusia. Lalu atas perintah Allah SWT Nabi Ibrahim kembali ke negeri Syam pada istri pertamanya yaitu Siti Sarah.

Siti Hajar begitu cemas dan sedih ketika Nabi ibrahim akan meninggalkannya seorang diri bersama anaknya yang masih kecil, di tempat yang begitu sunyi, tidak ada orang sama sekali, kecuali hanya pasir dan batu. Seraya merintih dan menangis, ia memegang kuat-kuat baju Nabi ibrahim AS. sambil memohon belas kasihan-nya, meminta agar ia tidak ditinggalkan seorang diri di tempat yang begitu hampa, tidak ada seorang manusia sama sekali, tidak ada binatang, tidak ada pohon dan air mengalir pun juga tidak terlihat di tempat itu. Sementara ia masih bertanggung jawab untuk mengasuh anak kecil yang masih menyusu kepadanya. Mendengar keluh kesah Siti Hajar, tentunya Nabi Ibrahim merasa tidak tega untuk meninggalkan-nya sendiri bersama putranya yang ia sayangi tersebut di tempat yang sepi. Namun ia juga sadar bahwa apa yang dilakukannya merupakan keinginan dan perintah Allah yang maha pencipta, yang tentunya mengandung hikmah yang belum diketahuinya dan ia sadar bahwa Allah yang maha kuasa akan melindungi putranya dan Siti Hajar di tempat sepi tersebut dari kesukaran dan penderitaan.

Nabi Ibrahim kemudian berkata kepada Siti Hajar : ”Bertawakallah kepada Allah yang telah menentukan kehendak-Nya, percayalah kepada kekuasaan-Nya dan rahmat-Nya. Dialah yang memerintah aku membawa kamu ke sini dan dialah yang akan melindungi kamu dan menyertai kamu di tempat yang sunyi ini. Sungguh kalau bukan perintah dan wahyu-Nya, tidak sekalipun aku tega meninggalkan kamu di sini seorang diri bersama puteraku yang sangat aku cintai ini. Percayalah wahai Hajar bahwa Allah yang Maha kuasa tidak akan menelantarkan kamu berdua tanpa perlindungan-Nya. Rahmat dan barokah-Nya akan tetap turun di atas kamu untuk selamanya. Insya-Allah”.

Mendengar rangkaian kata dari Nabi Ibrahim itu, Siti Hajar segera melepaskan genggaman-nya dari baju Nabi Ibrahim AS. dan dilepaskannya beliau menunggang untanya untuk kembali ke Palestina dengan iringan air mata yang bercurah membasahi tubuh Nabi Ismail AS. yang sedang menyusu.

Suatu ketika Siti Hajar kehabisan air, beliau sangat kehausan sehingga air susu-nya pun kering. Dalam usahanya mencari air, Siti Hajar berlari kian kemari sampai ke bukit Shafa dan Marwah. Kemudian Siti Hajar mendengar suara Malaikat Jibril yang menunjuk suatu tempat (Shafa) dimana bayinya (Ismail) dibaringkan dalam keadaan menangis sambil menendang-nendang kakinya ke tanah. Atas izin Allah, di dekat Ismail menangis dan menendang tanah, memancarlah sebuah mata air.

Siti Hajar dengan tergesa-gesa menampungnya. Kemudian Malaikat Jibril berkata kepada air yang berlimpah-limpah itu "Zam-Zam!" yang artinya "Berkumpullah!" maka air itu berkumpul untuk kemudian menjadi telaga dan sampai saat ini disebut telaga Zam-zam. Usaha Siti Hajar mencari air kian kemari dari bukit Shafa ke Marwah dijadikan salah satu rukun Haji yang disebut Sha'i, yaitu berjalan kaki dari Shafa ke Marwah, pulang pergi tujuh kali.

Ketika pada suatu hari Nabi Ibrahim kembali ke Mekkah untuk mengunjungi putranya yaitu Nabi Ismail dan istrinya Siti Hajar, keadaan tempat dimana anak istrinya ditinggalkan dahulu telah berubah menjadi desa yang subur dan makmur.

Ketika Nabi Ismail mencapai usia remaja, Nabi ibrahim mendapat mimpi bahwa ia harus menyembelih putera-nya, yaitu Nabi Ismail.  Dan mimpi seorang Nabi merupakan salah satu dari cara Allah menurunkan wahyu-nya, jadi perintah yang diterimanya dalam mimpi itu harus dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim. Mengetahui perintah itu, Ibrahim duduk dan termenung memikirkan ujian dari Allah yang begitu berat tersebut. Sebagai seorang ayah yang baru saja dikaruniai seorang putera setelah puluhan tahun diharapkan dan didambakan, serta saat ini ia sedang penuh kebahagiaan bersama putera-nya yang diharapkan bisa menjadi pewaris dan menyambung kelangsungan keturunannya, tiba tiba harus dijadikan qurban dan harus direnggut oleh tangan ayahnya sendiri.

Sungguh amat berat ujian yang dihadapi oleh Nabi Ibrahim as, namun sesuai dengan firman Allah yaitu : “Allah lebih mengetahui dimana dan kepada siapa Dia mengamanatkan risalah-Nya”. Lalu Nabi Ibrahim AS tidak membuang waktu lagi, berniat tetap akan menyembelih Nabi Ismail AS putera-nya sebagai qurban sesuai dengan perintah Allah yang telah diterimanya. Dan berangkatlah Nabi Ibrahim AS. menuju Makkah untuk menemui dan menyampaikan kepada putera-nya apa yang Allah perintahkan.

Nabi Ismail sebagai anak yang soleh yang sangat taat kepada Allah dan bakti kepada orang tuanya, ketika Nabi Ibrahim berkata : “Hai anakku! Aku telah bermimpi, di dalam tidur seolah-olah saya menyembelih kamu, maka bagaimanakah pendapatmu?”

Tanpa ragu-ragu dan berfikir panjang Nabi Ismail pun menjawab perkataan ayahnya :

“Wahai ayahku! Laksanakanlah apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepadamu. Engkau akan menemui ku insya-Allah sebagai seorang yang sabar dan patuh kepada perintah. Aku hanya meminta dalam melaksanakan perintah Allah itu agar ayah mengikat ku kuat kuat supaya aku tidak banyak bergerak sehingga menyusahkan Ayah, kedua agar menanggalkan pakaianku supaya tidak terkena darah yang akan menyebabkan berkurangnya pahalaku ketika ibuku melihatnya, ketiga tajamkanlah pedangmu dan percepatlah pelaksanaan penyembelihan agar meringankan penderitaan dan rasa pedihku, keempat dan yang terakhir sampaikanlah salamku kepada ibuku berikanlah kepadanya pakaianku ini untuk menjadi penghibur-nya dalam kesedihan dan tanda mata serta kenang-kenangan baginya dari putera tunggalnya”

Kemudian dipeluk-nya Nabi Ismail as dan dicium pipinya oleh Nabi Ibrahim seraya berkata : “Bahagia-lah aku mempunyai seorang putera yang taat kepada Allah, bakti kepada orang tua yang ikhlas hati menyerahkan dirinya untuk melaksanakan perintah Allah”.

Nabi Ibrahim kemudian membaringkan Ismail ke tanah dengan maksud akan disembelihnya. Pada saat itulah Allah SWT. menggantinya dengan seekor biri-biri (kibas) yang besar.  Dikarenakan sabar dan takwanya, maka Ismail pun diangkat menjadi Rasul Allah dan peristiwa tersebut dijadikan sebagai salah satu ritual dalam perayaan Idul Adha.

Nabi Ibrahim AS. bersama anaknya yaitu Nabi Ismail AS. kemudian mendirikan Ka'bah (Baitullah) yang menjadi kiblat bagi umat manusia sedunia dalam beribadah kepada Allah.

Setelah usianya dewasa, Nabi Ismail menikah dengan seorang wanita dari suku Jurhum. Pada suatu hari, berkunjung-lah Nabi Ibrahim kerumah anaknya dan disambut oleh menantunya saja karena saat itu Ismail sedang tidak berada dirumah. Menyaksikan menantunya seorang yang tidak berbudi, Nabi Ibrahim berkata kepada menantunya "Jika nanti suamimu pulang dari berburu, ceritakanlah kepadanya, bahwa ada seorang tua yang ciri-ciri dan sifatnya begini dan begini datang berkunjung. Katakan pula kepadanya bahwa aku tidak menyukai bandur rumahnya, hendaknya ditukar dengan yang lain" Kemudian Nabi Ibrahim AS. pulang. 

Setelah tiba Nabi Ismail AS. oleh istrinya di ceritakanlah kedatangan Nabi Ibrahim AS. lengkap dengan pesannya "Itulah bapakku" ujar Nabi Ismail dan beliau tidak suka kepadamu karena budimu yang kasar dan rendah. Lalu Nabi Ismail menceraikan istrinya dan menikah lagi dengan wanita Jurhum yang lain. Ternyata Nabi Ibrahim sangat setuju dengan menantunya yang kedua ini.

Nabi Ismail dikaruniai oleh Allah SWT. dua belas orang anak dan mereka menjadi pemimpin-pemimpin atas kaumnya yang dinamakan Rab Musta'ribah.

Nabi Ismail yang disukai Allah diutus ke negeri Yaman dan Amliq untuk menyeru manusia supaya bertakwa kepada Allah SWT. bersembahyang dan membayar zakat. Dan menurut salah satu riwayat, Nabi Ismail meninggal pada usia 137 tahun di Palestina. Namun menurut riwayat yang lain, Nabi Ismail meninggal dunia di Mekkah.

Demikianlah salah satu kisah dari 25 Nabi dan Rasul Allah yaitu kisah Nabi Ismail yang penuh kesabaran dan disini kita bisa melihat begitu banyak rahasia Allah yang terkandung dalam setiap perintah dan larangan-nya seperti dalam cerita Nabi Ismail AS. ini kita bisa mengetahui asal muasal hari raya Idul Adha, juga air zam-zam yang tidak pernah kering dan juga siapa yang membangun Ka'bah yang hingga akhir zaman menjadi arah kiblat seluruh umat muslim. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar