Cerita Dongeng Pinokio Si Boneka Kayu

Dongeng Pinokio adalah sebuah cerita dongeng untuk anak-anak yang berasal dari Italia yang dibuat oleh seorang penulis bernama Carlo Collodi dan pertama kali dipublikasikan pada tahun 1818 dalam bentuk cerita berseri pada sebuah majalah dan pada tahun 1883 ceritanya dimuat kembali dalam bentuk sebuah buku dengan judul "Petualangan Pinokio.

Dalam cerita Pinokio ini terdapat beberapa pelajaran yang bisa kita petik seperti :
  • Jadilah anak yang baik yang selalu mengingat pesan dan nasehat orang tua karena orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anak mereka.

  • Janganlah berlebihan dalam bermain karena hal tersebut akan membuat kita lupa dengan hal-hal lain yang lebih utama seperti belajar dan mengerjakan tugas sekolah.

  • Selalu berhati-hatilah dengan orang asing yang tidak kita kenal baik, karena bisa saja mereka bermaksud untuk memperdaya kita.
Agar lebih jelasnya, berikut ini adalah cerita lengkap Pinokio si boneka kayu dan pak Geppeto.

Cerita tentang Pinokio berawal dengan pak Geppeto yang menerima sepotong kayu pinus pemberian dari tuan Cherry. Oleh pak Geppeto yang seorang pemahat, kayu tersebut kemudian dibuat sebuah boneka berbentuk seorangk anak lelaki kecil yang diberi nama Pinokio.

Berkat bantuan seorang peri, boneka kayu itu kemudian diberikan nyawa sehingga bisa bergerak, berbicara dan bertingkah laku seperti layaknya seorang manusia. Pak Geppeto yang tinggal seorang diri sangat senang dengan hal tersebut karena ia sudah sangat lama memimpikan kehadiran seorang anak.

Cerita Dongeng Pinokio Si Boneka Kayu

Keesokan paginya, pak Geppeto menjual pakaiannya dan dengan uang itu ia membelikan Pinokio sebuah buku. “Belajarlah baik-baik dengan buku ini!” kata pak Geppeto. “Terima kasih, Papa. Aku pergi sekolah, dan akan belajar dengan giat.” Jawab Pinokio.

Tetapi dari arah yang berlawanan dengan sekolahnya terdengar suara, “Drum, dum, dum, dum.” Ketika Pinokio mendekat ternyata itu adalah tenda sebuah sandiwara boneka. Pinokio lalu menjual buku-nya, kemudian membeli karcis dengan uang itu dan masuk ke dalam. Di dalam tenda sandiwara, sebuah boneka anak perempuan telah dikepung beberapa orang prajurit berpedang. “Lihat! Jahat sekali prajurit itu…” 

Pinokio naik ke panggung, dan menerjang boneka prajurit. Tali boneka itu putus dan jatuhlah boneka itu. Pemilik sandiwara yang marah segera menangkap Pinokio dan akan melemparnya ke api. “Maafkan aku. Kalau aku dibakar, kasihan papa yang sudah tua,” kata Pinokio. “Aku berjanji pada papa untuk belajar di sekolah dengan rajin. Karena iba, pemilik sandiwara melepaskan Pinokio dan memberinya beberapa keping uang emas. “Gunakan uang ini untuk membeli buku-buku pelajaranmu,” kata pemilik sandiwara tersebut.

Kemudian Pinokio pergi untuk membeli buku. Tetapi di tengah jalan, Rubah dan Kucing melihat keadaan itu. Mereka menyapa Pinokio dengan ramah. “Selamat siang, Pinokio yang baik. Kalau uang emas itu bertambah banyak, pasti papamu lebih senang, ya!”

Bagaimana cara menambah uang emas ini?” Tanya pinokio. “Gampang. Kau bisa menanamnya di bawah pohon ajaib. Lalu tidurlah, maka pada saat kau bangun nanti, pohon itu akan berbuah banyak sekali uang emas.” Kemudian Pinokio diantar oleh Rubah dan Kucing, lalu menanam uang emasnya di bawah sebuah pohon. Ketika Pinokio mulai tidur siang. Rubah dan Kucing menggali uang emas itu dan menggantung Pinokio di pohon, setelah itu mereka pergi.

Tolong…..” teriak Pinokio ketika sudah bangun dari tidurnya dan mengetahui dirinya tergantung di sebuah pohon. Seorang peri yang melihat keadaan Pinokio, mengutus burung elang untuk menolongnya. Burung elang membawa Pinokio dengan paruhnya, dan membawanya ke ruangan di mana peri telah menunggu. Sang peri menidurkan Pinokio di tempat tidur dan memberinya obat.

Nah, minumlah obat ini maka kau akan cepat sembuh. Setelah itu pulang, ya!” kata sang Peri. “Lebih baik mati daripada minum obat yang pahit.” Pinokio terus menolak. Akhirnya sang peri menjadi marah, “Plak plak!” Ia menampar. Lalu datanglah empat ekor kelinci yang menggotong peti mati. Pinokio terkejut sekali, cepat-cepat ia meminum obat yang pahit itu. “Pinokio, mengapa kau tidak pergi ke sekolah?” Tanya peri. 

“Hmm.. di jalan, aku menjual buku-ku untuk anak miskin yang kelaparan dan membelikannya roti. Karena itu aku tidak bisa pergi ke sekolah….” Tiba-tiba saja “syuut” hidung Pinokio mulai memanjang. “Pinokio!” Kalau kau berbohong, hidungmu akan memanjang sampai ke langit.” “Maafkan aku. Aku tak akan berbohong lagi.” Pinokio meminta maaf. Sang peri tersenyum, dan memerintahkan burung pelatuk mematuki hidung Pinokio, mengembalikannya ke bentuk semula. “Ayo cepat kembali ke rumah, dan belajar ke sekolah!”

Di tengah perjalanan pulang, Pinokio bertemu dengan kereta bermain. Pinokio tidak bisa menahan diri untuk tidak naik. Pinokio telah lupa akan janjinya pada sang peri, setiap hari ia hanya bermain-main saja.

Pada suatu hari, Pinokio terkejut melihat wajahnya yang terpantul di permukaan air. “Ah! Telingaku jadi telinga keledai! Aku pun berbuntut!” teriaknya. Ternyata anak-anak lain pun telah menjadi keledai. Akhirnya Pinokio pun menjadi seekor keledai dan dijual ke sirkus. Pinokio telah melanggar janjinya kepada sang peri, maka ia mendapat hukuman.

Setiap hari ia dipecut, dan harus melompati lingkaran api yang panas. Walaupun takut, Pinokio tetap meloncat. Akhirnya ia terjatuh sampai kakinya patah. Pemilik sirkus menjadi marah. “Keledai dungu! Lebih baik dibuang ke laut.” Kemudian Pinokio dilempar ke laut. “Blup blup blup” Pinokio tenggelam ke dasar laut, ikan-ikan datang menggigitnya. Lalu kulit keledai terlepas, dan dari dalamnya muncul si Pinokio. “Terima kasih ikan-ikan.” Sebenarnya sang peri melihat bahwa Pinokio telah menyadari kesalahannya dan memerintahkan ikan-ikan untuk menolongnya.

Sambil berenang, Pinokio berjanji dalam hati “Kali ini setelah aku pulang ke rumah aku akan ke sekolah dan belajar dengan giat. Aku juga akan membantu pekerjaan di rumah dan menjaga papa.” Pada saat itu “Hrrr…., seekor ikan hiu besar datang mendekat dengan suara yang menyeramkan. “Haaa…. Tolong.” Pinokio ditelan oleh ikan hiu yang besar itu. “Hap” Di dalam perut hiu benar-benar gelap gulita. Tetapi di kejauhan terlihat seberkas sinar. Ternyata itu adalah kakek Gepeto.

Papa!” “Pinokio!” Mereka berdua saling berpelukan. “Aku pergi ke laut untuk mencarimu, dan aku ditelan hiu ini. Tapi ternyata di sini aku bertemu denganmu. Untung kita selamat!”

Ayo, kita keluar dari sini!” “Badanku sudah lemah. Kau saja yang pergi.” “Aku tidak mau kalau tidak bersama-sama Papa.” Ketika ikan hiu sedang tidur, Pinokio melarikan diri dari mulut hiu dengan menggendong pak Geppeto di punggungnya.

Dengan sekuat tenaga ia berenang sampai akhirnya tiba di pantai. Mereka menyewa sebuah pondok petani terdekat. Sambil merawat pak Geppeto, Pinokio bekerja setiap hari. Akhirnya ayahnya menjadi sehat kembali. “Pinokio, karena kaulah aku jadi sehat seperti ini. Terima kasih ya!”

Papa, mulai sekarang aku akan lebih menurut lagi.” Tiba-tiba saja sekeliling mereka menjadi bersinar terang,” Pinokio, kau telah menjadi seorang anak yang baik.” Sang peri muncul, dan merubah Pinokio si boneka kayu menjadi seorang anak manusia.

Nah demikianlah cerita tentang Pinokio si boneka kayu, semoga anak cemerlang bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari cerita dongeng ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar