Kisah Nabi Idris - Cerita 25 Nabi Dan Rasul

Setelah kemarin saya menceritakan kisah tentang Nabi Adam A.S., hari ini saya akan menceritakan kisah tentang nabi Allah yang kedua yaitu kisah Nabi Idris A.S.

Nabi Idris A.S adalah keturunan nabi Adam yang pertama yang diberikan hak kenabian oleh Allah SWT. Nabi Idris merupakan keturunan Nabi Adam yang ke-enam, beliau merupakan putra dari Yarid bin Mihla'iel dan menurut beberapa kitab tafsir beliau hidup 1.000 tahun setelah wafatnya Nabi Adam A.S. dan bertempat tinggal disekitar Mesir.

Nabi Idris A.S dianugerahi kepandaian dalam berbagai disiplin ilmu, beliau sangat mahir dalam menciptakan berbagai alat-alat untuk mempermudah pekerjaan manusia, seperti pengenalan tulisan, matematika, astronomi, dan lain sebagainya.

Kisah Nabi Idris Cerita 25 Nabi Dan Rasul
Menurut suatu kisah, terdapat suatu masa di mana banyak manusia telah melupakan Allah sehingga Allah menghukum mereka dengan bentuk kemarau yang berkepanjangan. Nabi Idris pun turun tangan dan memohon kepada Allah untuk mengakhiri hukuman tersebut. Allah mengabulkan permohonan itu dan berakhirlah musim kemarau tersebut yang ditandai dengan turunnya hujan lebat.

Nabi Idris seringkali dimintai tolong untuk menjahitkan pakaian dan pada saat beliau memasukan jarum dan mulai menjahit pakaian tersebut beliau selalu melakukannya sembari bertasbih dan jika pekerjaannya telah selesai, ia selalu menyerahkan pakaian yang telah dijahit tersebut tanpa meminta imbalan.

Nabi Idris A.S. mempunyai kebiasaan berpuasa sepanjang masa, dan apabila telah tiba waktunya berbuka puasa, maka datanglah malaikat dari Syurga membawa makanan untuk Nabi Idris, lalu beliau menikmati makanan tersebut dan setelah selesai makan, ia akan beribadah sepanjang malam.

Pada suatu malam Malaikat Maut datang menemuinya, sambil membawa makanan dari Syurga. Nabi Idris menikmati makanan itu. Kemudian Nabi Idris berkata kepada Malaikat Maut: “Wahai tuan, marilah kita nikmati makanan ini bersama-sama.” Tetapi Malaikat itu menolaknya.

Nabi Idris kemudian kembali melanjutkan ibadahnya, sedangkan Malaikat Maut itu dengan setia menunggu sampai terbit matahari. Nabi Idris merasa heran melihat sikap Malaikat itu.

Kemudian beliau berkata: “Wahai tuan, maukah tuan berjalan-jalan bersama saya untuk melihat keindahan alam disekitar sini?".

Malaikat Maut kemudian menjawab : "Baiklah Wahai Nabi Allah Idris”.

Mereka berdua akhirnya berjalan menikmati pemandangan alam disekitar tempat kediaman Nabi Idris A.S hingga akhirnya mereka tiba disebuah kebun yang memiliki banyak sekali buah-buahan yang telah masak.

Malaikat Maut berkata kepada Nabi Idris : "Wahai Idris, adakah tuan izinkan saya untuk mengambil ini untuk saya makan?".

Nabi Idris pun menjawab: "Subhanallah, mengapa malam tadi tuan tidak mau memakan makanan yang halal, sedangkan sekarang tuan mau memakan makanan yang haram?”.

Mendengar jawaban Nabi Idris, sang Malaikat Maut akhirnya tidak memakan buah tersebut dan mereka kemudian melanjutkan perjalanan.

Tidak terasa ternyata mereka telah berjalan-jalan selama 4 hari. Selama dalam perjalanan tersebut Nabi Idris menemui beberapa keanehan pada diri temannya itu. Segala tindak-tanduknya berbeda dengan sifat-sifat manusia pada umumnya. Akhirnya Nabi Idris tidak dapat menahan hasrat ingin tahunya itu.

Kemudian beliau bertanya: “Wahai tuan, bolehkah saya tahu, siapakah tuan yang sebenarnya?".

Sang malaikat menjawab : "Saya adalah Malaikat Maut”.

“Tuankah yang bertugas mencabut nyawa semua makhluk?”, tanya Idris.

“Benar ya Idris”, jawab sang malaikat.

"Tuan telah bersama saya selama 4 hari ini, apakah tuan juga telah mencabut nyawa mahkluk-mahkluk Allah ?". Tanya Nabi Idris.

“Wahai Idris, selama 4 hari ini banyak sekali nyawa yang telah saya cabut. Roh makhluk-makhluk itu bagaikan hidangan di hadapanku, aku ambil mereka bagaikan seseorang sedang menyuap-nyuap makanan.”

“Wahai Malaikat, apakah tujuan tuan datang, apakah untuk ziarah atau untuk mencabut nyawaku?”

“Saya datang untuk menziarahimu dan Allah SWT telah mengizinkan niatku itu.”

“Wahai Malaikat Maut, kabulkanlah satu permintaanku kepadamu, yaitu agar tuan mencabut nyawaku, kemudian tuan mohonkan kepada Allah agar Allah menghidupkan saya kembali, supaya aku dapat menyembah Allah Setelah aku merasakan dahsyatnya sakaratul maut itu.”

Malaikat Maut pun menjawab: “Sesungguhnya saya tidaklah mencabut nyawa seseorang pun, melainkan hanya dengan izin Allah.”

Lalu Allah SWT mewahyukan kepada Malaikat Maut, agar ia mencabut nyawa Nabi Idris A.S. Maka dicabutnyalah nyawa Idris saat itu juga. Maka Nabi Idris pun merasakan kematian ketika itu.

Di waktu Malaikat Maut melihat kematian Nabi Idris itu, maka menangislah ia. Dengan perasaan hiba dan sedih ia bermohon kepada Allah supaya Allah menghidupkan kembali sahabatnya itu. Allah mengabulkan permohonannya, dan Nabi Idris pun dihidupkan kembali oleh Allah SWT.

Kemudian Malaikat Maut memeluk Nabi Idris, dan ia bertanya: “Wahai saudaraku, bagaimanakah tuan merasakan kesakitan maut itu?. Bila seekor binatang dilepas kulitnya ketika ia masih hidup, maka sakitnya maut itu seribu kali lebih sakit daripadanya. Padahal-kelembutan yang saya lakukan terhadap tuan, ketika saya mencabut nyawa tuan itu, belum pernah saya lakukan terhadap siapapun sebelum tuan.

Wahai Malaikat Maut, saya mempunyai permintaan lagi kepada tuan, yaitu saya sungguh-sungguh berhasrat melihat Neraka, supaya saya dapat beribadah kepada Allah SWT lebih banyak lagi, setelah saya menyaksikan dahsyatnya api neraka itu.

"Wahai Idris A.S. saya tidak dapat pergi ke Neraka jika tanpa izin dari Allah SWT". berkata sang Malaikat Maut.

Akhirnya Allah SWT mewahyukan kepada Malaikat Maut agar ia membawa Nabi Idris ke dalam Neraka. Maka pergilah mereka berdua ke Neraka. Di Neraka itu, Nabi Idris as. dapat melihat semua yang diciptakan Allah SWT untuk menyiksa musuh-musuh-Nya. Seperti rantai-rantai yang panas, ular yang berbisa, api yang membara, timah yang mendidih, pohon-pohon yang penuh duri, air panas yang mendidih dan lain-lain.

Setelah merasa puas melihat keadaan Neraka itu, maka mereka pun pulang. Kemudian Nabi Idris A.S. berkata kepada Malaikat Maut: “Wahai Malaikat Maut, saya mempunyai hajat yang lain, yaitu agar tuan dapat menolong saya membawa masuk ke dalam Syurga. Sehingga saya dapat melihat apa-apa yang telah disediakan oleh Allah bagi kekasih-kekasih-Nya. Setelah itu saya pun dapat meningkatkan lagi ibadah saya kepada Allah SWT.

Saya tidak dapat membawa tuan masuk ke dalam Syurga, tanpa perintah dari Allah SWT.” Jawab Malaikat Maut.

Lalu Allah SWT pun memerintahkan kepada Malaikat Maut supaya ia membawa Nabi Idris masuk ke dalam Syurga.

Kemudian pergilah mereka berdua, sehingga mereka sampai di pintu Syurga dan mereka berhenti di pintu tersebut. Dari situ Nabi Idris dapat melihat pemandangan di dalam Syurga. Nabi Idris dapat melihat segala macam kenikmatan yang disediakan oleh Allah SWT untuk para wali-wali-Nya. Berupa buah-buahan, pohon-pohon yang indah dan sungai-sungai yang mengalir dan lain-lain.

Kemudian Nabi Idris berkata: “Wahai saudaraku Malaikat Maut, saya telah merasakan pahitnya maut dan saya telah melihat dahsyatnya api Neraka. Maka maukah tuan memohonkan kepada Allah untukku, agar Allah mengizinkan aku memasuki Syurga untuk dapat meminum airnya, untuk menghilangkan kesakitan mati dan dahsyatnya api Neraka?”.

Maka Malaikat Maut pun bermohon kepada Allah. Kemudian Allah memberi izin kepadanya untuk memasuki Syurga dan kemudian harus keluar lagi. Nabi Idris pun masuk ke dalam Syurga, beliau meletakkan kasutnya di bawah salah satu pohon Syurga, lalu ia keluar kembali dari Syurga. Setelah beliau berada di luar, Nabi Idris berkata kepada Malaikat Maut: “Wahai Malaikat Maut, aku telah meninggalkan kasutku di dalam Syurga.

Malaikat Maut pun berkata: "Masuklah ke dalam Syurga, dan ambil kasut tuan”.

Maka masuklah Nabi Idris, namun beliau tidak keluar lagi, sehingga Malaikat Maut memanggilnya: “Ya Idris, keluarlah!. Tidak, wahai Malaikat Maut, karena Allah SWT telah berfirman : “Setiap yang berjiwa akan merasakan mati”.

Allah kemudian mengijinkan Nabi Idris tinggal didalam surga dan pada saat itu usia nabi Idris adalah 82 tahun.

Demikianlah kisah tentang Nabi Idris A.S yang bisa anak cemerlang sampaikan namun walaupun  Nabi Idris tidak lagi tinggal di bumi ini, terdapat beberapa kata mutiara dan nasihat dari Nabi Idris A.S yang bisa kita simak seperti berikut ini.

1. Kesabaran yang disertai iman kepada Allah akan selalu membawa kemenangan.

2. Bila berdo'a dan memohon sesuatu kepada Allah, maka ikhlaskanlah niatmu demikian pula puasa dan solatmu.

3. Janganlah iri hati kepada orang-orang yang baik nasibnya, karena mereka tidak akan banyak dan lama menikmati kebaikan nasibnya.

4. Barang siapa melampaui kesederhanaan, maka tidak ada sesuatupun yang bisa memuaskannya.

5. Orang yang bahagia ialah orang yang senantiasa waspada dan mengharapkan syafaat dari Tuhannya dengan amal-amal solehnya.

6. Tanpa membagi-bagikan nikmat yang diperolehnya seseorang tidak dapat bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat yang diperolehnya itu.

7. Janganlah bersumpah palsu dan janganlah menutupi sumpah dari orang yang berdusta agar kamu tidak bersekutu dengan mereka dalam dosa.

Terima kasih telah berkunjung ke blog anak cemerlang ini dan membaca cerita islami yang berjudul kisah Nabi Idris ini, semoga kita semua bisa mengambil hikmahnya dan nantikan cerita Islami lainnya yaitu tentang kisah Nabi Nuh esok hari.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar