Legenda Batu Kuwung Cerita Rakyat Banten

Batu Kuwung merupakan sebuah kalimat dalam bahasa Sunda yang berarti Batu Cekung. Batu Kuwung adalah nama sebuah objek wisata air panas yang terletak di provinsi Banten yang dipercaya banyak orang bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Berdasarkan cerita legenda rakyat Banten, Batu Kuwung bukanlah buatan manusia namun air panas yang keluar dari Batu Kuwung baru muncul setelah ada seorang saudagar kaya yang bertapa diatas batu tersebut selama 7 hari 7 malam.

Untuk mengetahui mengapa sang saudagar bisa bertapa ditempat tersebut tanpa makan dan minum selama 7 hari 7 malam anda bisa membaca cerita legenda Batu Kuwung berikut ini.

Pada jaman dahulu di daerah Banten hidup seorang saudagar kaya raya yang mempunyai hubungan sangat erat dengan kekuasaan Sultan Haji, anak dari Sultan Ageng Tirtayasa. Karena kedekatan-nya tersebut, sang Saudagar mendapat hak monopoli perdagangan beras dan lada dari Lampung. Tak ayal, usahanya pun maju pesat.

Legenda Batu Kuwung Cerita Rakyat Banten
Hampir semua tanah pertanian di desa-desa yang berdekatan dengan tempat tinggal sang Saudagar menjadi miliknya. Ia membeli tanah-tanah tersebut dari para petani dengan harga yang rendah. Biasanya setelah petani-petani tersebut tidak mampu lagi membayar hutang dengan bunga yang beranak-pinak dan sudah habis jatuh tempo kepada sang Saudagar.

Selain itu, sang Saudagar diangkat menjadi seorang kepala desa di tempat tinggalnya. Tetapi ia menyalah gunakan kekuasaan yang diberikan dengan memungut pajak yang lebih tinggi dari tarif yang diharuskan. Karena kekayaan dari kekuasaannya itu, ia menjadi orang yang sangat sombong dan seringkali bertindak sewenang-sewenang.

Sang Saudagar juga sangat kikir. Apabila ada orang lain tertimpa musibah dan membutuhkan pertolongan, ia sama sekali tidak mau memberikan bantuan. Bahkan saking pelit-nya, ia tidak mau menikah meskipun umurnya telah berkepala empat. Baginya, menikah dan memiliki anak adalah suatu pemborosan.

Ia hidup bermewah-mewahan, sedangkan orang-orang di sekitarnya dirundung kemiskinan, sehingga sangat beralasan, jika hampir semua penduduk desa membenci-nya. Untuk melindungi harta dan nyawanya saja, ia memelihara beberapa orang pengawal pribadi.

Pada suatu hari di desa tempat tinggal sang Saudagar kaya raya itu, lewatlah seorang sakti yang menyamar sebagai seorang pengemis lapar dengan kaki pincang. Sebelumnya, Orang Sakti ini sudah mendengar perangai buruk sang Saudagar, dikarenakan keburukannya sudah jadi obrolan rutin penduduk, di pasar atau di warung-warung kopi. Ia datang ingin memberi pelajaran dan menyadarkan sang Saudagar yang sombong dan kikir tersebut.

Maka, si Pengemis berkaki pincang yang tidak lain adalah seorang sakti itu mampir menemui sang Saudagar di rumahnya yang besar dan mewah. Si Pengemis mengutarakan maksudnya menemui sang Saudagar untuk meminta sedikit makanan pengganjal perut dan sedikit kekayaan sebagai modal usaha.

Tetapi sang Saudagar memang sangat kikir. Bukannya memberi, ia malah memaki-maki si Pengemis berkaki pincang.

“Hai pengemis hina, apa kau pikir kekayaan yang kumiliki sekarang ini jatuh begitu saja dari langit, heh?! Enak saja kau meminta-minta kepadaku, dasar pemalas!” hardik Sang Saudagar seraya mendorong tubuh si Pengemis berkaki pincang, hingga jatuh tersungkur mencium tanah.

Mendapat perlakuan seperti itu, si Pengemis berkaki pincang pun murka. la memperingatkan bahwa sang Saudagar akan mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya.

“Hai Saudagar yang sombong dan kikir, kau pun harus merasakan betapa lapar dan menderitanya aku!” ujar si Pengemis berkaki pincang. Setelah berkata demikian, segera si Pengemis berkaki pincang raib dari pandangan mata. Melihat kejadian tersebut sang Saudagar terkejut bukan main.

Benar saja, esok hari ketika sang Saudagar bangun dari tidur, ia tidak dapat menggerakkan kedua kakinya. Dengan sekuat tenaga ia berusaha menggerakkan kakinya, tetapi tetap saja tidak bisa. Sang Saudagar pun panik. Ia berteriak-teriak histeris. Para pengawal pribadinya segera berdatangan mendengar teriakan sang Saudagar tersebut.

Jadilah sang Saudagar menderita kelumpuhan pada kedua kakinya. la memerintahkan kepada pengawal pribadinya mencari tabib-tabib sakti untuk mengobati kakinya yang lumpuh. Ia menjanjikan imbalan yang sangat tinggi bagi siapa saja yang dapat menyembuhkan-nya.

Namun, meski sudah banyak tabib berusaha mengobati, tak satu pun yang berhasil. Oleh sebab itu ia pun berjanji akan memberikan setengah dari harta kekayaannya bagi siapa saja yang dapat menyembuhkannya dari kelumpuhan.

Si Pengemis berkaki pincang mendengar janji tersebut. Maka ia pun datang menemui sang Saudagar dan menjelaskan apa yang sebenarnya menjadi sebab kelumpuhan kaki sang Saudagar.

“Semua ini adalah ganjalan atas sifatmu yang kikir dan sombong. Agar kakimu sembuh dari kelumpuhan kau harus melaksanakan tiga hal. Pertama, kau harus bisa merubah sifat sombong dan kikirmu itu.

Kedua, kau harus pergi ke kaki Gunung Karang dan carilah sebuah batu cekung. Lalu bertapalah kau selama tujuh hari tujuh malam di atas batu cekung tersebut, tanpa makan dan minum. Dan ingat, apa pun yang akan terjadi jangan sampai kau membatalkan pertapaan yang kau jalani.

Ketiga, apabila kakimu sudah sembuh seperti biasa, kau harus memenuhi janjimu untuk merelakan setengah dari harta kekayaan tersebut kepada orang-orang miskin di tempat tinggalmu”. Setelah berkata demikian, lagi-lagi si Pengemis berkaki pincang tersebut raib begitu saja dari pandangan mata. Sang Saudagar pun sadar bahwa si Pengemis berkaki pincang tersebut bukanlah orang sembarangan.

Kemudian berangkatlah sang Saudagar dengan menggunakan tandu yang digotong oleh dua orang pengawal pribadinya, menuju ke kaki Gunung Karang. Setelah berhari-hari melakukan perjalanan melewati jalan setapak yang dikelilingi semak belukar dan pepohonan yang lebat, akhirnya sang Saudagar tiba di kaki Gunung Karang dan melihat sebuah batu cekung yang dimaksud si Pengemis berkaki pincang.

Karena perjalanan yang sangat melelahkan dan dilakukan tanpa istirahat, kedua orang pengawal pribadi sang Saudagar jatuh pingsan. Padahal batu cekung tersebut tinggal beberapa puluh langkah lagi jaraknya.

Terpaksa, dengan bersusah payah sang Saudagar merayap di tanah untuk mencapai batu cekung tersebut. Lalu ia pun segera bertapa di atasnya. Selama tujuh hari tujuh malam ia menahan rasa lapar dan haus karena tidak makan dan minum, juga bertahan dari bermacam-macam godaan lainnya, seperti binatang-binatang liar dan makhluk-makhluk halus yang datang mengganggu.

Pada hari terakhir pertapaan, keajaiban pun terjadi. Dari pusat Batu Cekung tersebut menyemburlah mata air panas. Sang Saudagar menyudahi tapanya, lalu bersegera mandi dengan mata air panas dari batu cekung tersebut. Keajaiban terjadi lagi, kedua kakinya yang semula lumpuh kini dapat ia gerakkan kembali.

Seperti janjinya semula, maka sang Saudagar membagi-bagikan setengah dari harta kekayaannya kepada orang-orang miskin di sekitar tempat tinggalnya. Para petani di desanya diberikan tanah pertanian sendiri untuk digarap. Ia juga kemudian menikahi seorang gadis cantik anak seorang petani miskin, yang menarik hatinya. Penduduk desa pun tidak lagi membenci-nya, ia kemudian dikenal sebagai seorang saudagar yang dermawan.

Apabila ada orang bertamu ke rumahnya, sang Saudagar kerap kali bercerita, perihal keajaiban mata air panas batu cekung di kaki Gunung Karang yang dapat menyembuhkan kelumpuhan kakinya. Lambat laun cerita dari mulut ke mulut itu pun tersebar luas. Banyak orang yang tertarik untuk mendatanginya. Konon, beberapa macam penyakit lain dapat sembuh apabila mandi dengan mata air panas batu cekung tersebut.

Kini, orang-orang mengenal tempat tersebut sebagai objek wisata pemandian mata air panas “Batu Kuwung” (yang berarti batu cekung). Demikianlah asal usul Batu Kuwung yang bisa saya sampaikan, tetap kunjungi blog anak cemerlang ini untuk mengetahui cerita rakyat Banten lainnya dan juga cerita rakyat lainnya dari seluruh Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar