Cerita Legenda Rakyat Banten Asal Usul Prasasti Munjul

Prasasti Munjul adalah sebuah prasasti dari jaman kerajaan Tarumanagera yang ditemukan di tepian sungai Cidanghiang yang berada di kecamatan Munjul, Banten karena itulan prasasti tersebut disebut prasasti Munjul.

Menurut cerita legenda rakyat Banten, asal usul prasasti Munjul berkaitan erat dengan penumpasan para bajak laut oleh tentara kerajaan Tarumanagera yang dipimpin langsung oleh Raja Purnawarman dan berikut ini adalah cerita rakyat nusantara tersebut selengkapnya.

Tarumanegara merupakan sebuah kerajaan yang berkuasa di wilayah Jawa Barat. Kerajaan yang berdiri pada abad ke-4 hingga ke-7 Masehi ini merupakan salah satu kerajaan tua di Indonesia. Kerajaan Tarumanegara dikenal memiliki tujuh buah prasasti.

Salah satunya adalah Prasasti Munjul. Prasasti Munjul disebut juga Prasasti Cidanghiang. Prasasti ini terdapat di tepi Sungai Cidanghiang yang terletak di Desa Lebak. Desa Lebak terdapat di Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Wilayah Tarumanagara yang dihiasi banyak aliran sungai, melintas kota menembus desa, menjadi modal kerajaan ini untuk mengembangkan perdagangan di wilayahnya. Sungai Gangga yang melintas di Indraprahasta (Cirebon), Sungai Cupu di Cupunagara, Sungai Gomati dan Candrabaga yang meliuk indah di ibukota, serta Citarum, sungai besar yang menjadi inspirasi penamaan kerajaan ini.

Cerita Legenda Rakyat Banten Asal Usul Prasasti Munjul
Sementara itu indahnya bayangan bulan yang membentang di atas Sungai Gomati terusik oleh tetes hujan yang satu demi satu membuyarkan lamunan Sang Maharaja Purnawarman.

“Paman Mahamantri… tanggal berapa ini?” Purnawarman menyela penjelasan Mahamantri yang sedang asyik mengutak-atik rencana pembangunan kerajaan. “Ampun Sang Maharaja… malam ini tanggal empat belas bagian terang bulan Posya,” Mahamantri menjawab tegas, seraya menengok bulan penuh yang nampak dari jendela istana. 

Seketika air muka Sang Purnawarman berubah, di luar angin malam berhembus kencang, gemerecik air hujan menghujam sungai Gomati mengusik ingatan Maharaja akan seorang Menteri yang ditugaskan tujuh bulan silam untuk meninjau wilayah barat Tarumanagara.

“Paman Mahamantri, sudah lebih tujuh purnama Paman Menteri belum kunjung pulang. Perasaanku tidak enak… semoga tidak terjadi apa-apa. Dewa Wisnu Sang Penguasa Jagat… selamatkan Paman Menteri bersama tujuh pengawalnya…”.

Bulan di atas Gomati mulai memudar, dihempas cahaya mentari dari Timur yang menyilaukan pandang. Lalu-lalang sampan dan perahu-perahu kecil melintas di atas Sungai Gomati melewati halaman istana raja, sementara di pelabuhan riuh para saudagar dan pelancong memulai kehidupan pagi melakukan aktifitas perdagangannya. Sebuah kapal bertiang tinggi merapat ke bibir dermaga pelabuhan, seorang juritsagara (awak kapal) terhuyung bergegas menuju penguasa pelabuhan, membawa kabar untuk Sang Maharaja Tarumanagara.

“Paman Mahamantri… siapkan kapal-kapal besar! Lengkapi dengan senjata! Jangan lupa Airawata…! Saat ini juga harus kita tumpas para perompak yang berani mengusik harimau Jawadwipa, wyaghra ning jawadwipa!” dalam kemarahan Sang Maharaja Purnawarman berteriak lantang, setelah menerima kabar Menteri dan tujuh pengawalnya dibunuh oleh para perompak di perairan Teluk Lada pesisir barat Tarumanagara.

“Paman Mahamantri… bawa para prajurit perang yang handal! Biar aku yang paling depan, memimpin pertempuran ini!”. Di depan ratusan prajurit dan ribuan rakyat Tarumanagara, Sang Maharaja Purnawarman mengenakan pakaian perang yang membalut seluruh tubuhnya, di atas tunggangan Gajah Airawata, ia berteriak lantang, “Wahai prajurit bhayangkara…! Wahai rakyat Taruma…! Kita akan menumpas habis siapapun yang berani mengusik kedaulatan wilayah kita…!. 

Kita tidak akan tinggal diam…! Dewa Batara Indra… lindungi perjalanan kami, jadikan kami Sang Purandara Saktipurusa, manusia sakti penghancur benteng…!” teriak lantang Sang Purnawarman membakar semangat prajurit bhayangkara dan rakyat Tarumanegara.

“Hidup Sri Maharaja Purnawarman…! Hidup Bhimaparakramoraja, Raja yang perkasa dan dahsyat…! Hidup wyaghra ning tarumanagara, harimau dari Tarumanagara…!” riuh lantang para prajurit bhayangkara dan sorak rakyat Tarumanagara mendukung dan mendoakan perjuangan Sang Purnawarman. Airawata berhias padma dan brahmara, berjalan tegap membawa Sri Maharaja Purnawarman menuju kapal yang di atasnya berkibar panji nagadhuajarupa, berbentuk lukisan naga.

Diikuti ratusan prajurit bhayangkara menuju geladak kapal perang Angkatan Laut Tarumanagara. Sedangkan ratusan prajurit bhayangkara berkuda yang lain, berlari melalui darat mengikuti arah matahari sirna di ujung barat Jawadwipa.

Perairan utara Jawadwipa terlewati, kapal layar meliuk terdorong angin menuju selat Sunda. Di sisi kanan, nampak jelas semburan api apuynusa (Krakatau), seakan tahu dan larut dalam kemarahan Sang Maharaja Purnawarman. Peperangan tak dapat dihindari, air laut seketika memerah, pasir pantai dipenuhi mayat-mayat bergelimpangan.

Dalam sekejap perairan barat Teluk Lada bergejolak, angin berhembus kencang, debur ombak menghempas karang menambah suasana menjadi tegang. Prahara di barat Jawadwipa, bhayangkara Tarumanagara berjuang untuk negara.

“Batara Indra lindungi kami…! Maju wyaghra ning tarumanagara…! Bhayangkara jaya…!” teriak Sang Purnawarman di sela-sela desing tombak dan kilatan ratusan panah yang melintas cepat. Satu-dua prajurit bhayangkara Tarumanagara gugur di medan perang, namun pasukan Tarumanagara terlalu kokoh untuk ditaklukan, serangan bertubi-tubi dari laut dan dihempas pasukan berkuda dari darat, membuat para perompak lari tunggang langgang menuju daratan melalui muara dan sungai-sungai yang nampak di bibir pantai barat Jawadwipa.

Ketika puluhan perompak memasuki celah Sungai Ciliman, Sang Purnawarman memacu Airawata, mengejar, menghantam dan menumpas para perompak hingga tuntas tak tersisa. Akhirnya setelah melewati deretan pohon angsana yang indah di tepi sungai Ciliman, pasukan prajurit bhayangkara tiba di sebuah lembah Munjul pinggiran sungai Ciliman.

Rakyat dan masyarakat Munjul bersorak riang, mengelu-elukan kedatangan Sri Maharaja Purnawarman. “Hidup Raja Taruma…! Hidup Maharaja Purnawarman…! Hidup Bhayangkara…! Hidup Airawata..!” teriak penduduk sambil bersorak riang menyaksikan barisan rombongan prajurit Taruma seraya membayangkan menikmati kemerdekaan yang sejati.

Bagi Sang Maharaja Purnawarman, sebagaimana ajaran ayahanda Rajaresi Darmayawarmanguru, yang memilih hidup menjadi manurajasunya (bertapa sampai ajal tiba), sudah menjadi kebiasaan, di setiap daerah selalu menemui panghulu kampung dan berdiam untuk beberapa hari di kampung tersebut. Menembus semak belukar, menerjang lereng terjal, langkah tegap Gajah Airawata membuka jalan pasukan Sang Purnawarman menuju lembah Lebak, di tepi Sungai Cidanghyang.

Hamparan huma di lereng-lereng bukit dan deretan leuit (lumbung padi) menghiasi perkampungan pribumi Lebak, masyarakatnya yang santun dalam balutan busana hitam dan putih berikat kepala, menambah kesejukan wilayah pedalaman Tarumanagara ini.

Di atas bukit dinding sungai Cidanghyang yang meliuk melingkar mengalir tenang, teronggok batu tegak menhir dan terhampar dolmen serta batu-batu bulat berbentuk bola, pertanda wilayah ini adalah pretakaryam (kampung pemujaan) yang masyarakatnya masih menganut pitarapuja (menyembah roh nenek moyang), yang berbeda dengan ajaran Sang Purnawarman.

“Tabe Sapun… Maharaja Purnawarman… neda agung nya paralun…,” panghulu kampung Lebak memberi salam dan menerima Sang Maharaja Purnawarman, seraya menyerahkan sirih setampin, didampingi Jaro Kampung di sisi kanannya. “Sungguh indah daerah ini Paman,” ujar Sang Purnawarman sambil mengunyah gulungan sirih sekapur, seraya menyaksikan polah tingkah puluhan lutung bergelantungan di atas batang pohon di tepi Sungai Cidanghyang, seakan menyambut kedatangan penguasa daerahnya.

Walaupun berbeda bahasa, obrolan Sang Purnawarman dengan Panghulu Kampung terasa hangat dan bersahabat. Ini karena Sang Purnawarman selalu membawa jurubahasa, yang mengerti dan memahami setiap bahasa asing. Telah habis tiga gulung sirih, Panghulu Kampung Lebak meminta kepada Sang Purnawarman agar dibuatkan tanda kekuasaan Tarumanagara di daerahnya.

“Tabe sapun… Sang Maharaja… kalau boleh kami meminta, buatkanlah sebaris kata-kata indah di atas batu sebagai tanda pengakuan Maharaja kepada kami,” pinta panghulu kampung seraya menambahkan, “Meski kami tak memamahi bahasa Maharaja, tanda kekuasaan Maharaja itu akan tetapi kami rawat dan jaga.

” Atas permohonan itulah, Sang Maharaja Purnawarman memerintahkan kepada jurubahasa dan jurupahat agar membuat prasasti dan ukiran telapak kakinya di atas batu yang terhampar di atas sungai Cidanghyang.

Dalam bahasa sanskerta berhurup pallawa terpahat indah satu sloka dalam kalimat: “vikrantayam vanipateh prabbuh satyaparakramah narendraddhvajabutena crimatah purrnavarmmanah” (ini tanda penguasa dunia yang perkasa, prabu yang setia serta penuh kepahlawanan, yang menjadi panji segala raja, yang termashur Purnawarman). Sementara telapak kaki Sang Maharaja Purnawarman dipahat di atas batu lain, yang tidak jauh dari prasasti tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar