Kisah Buaya Perompak Cerita Rakyat Lampung

Kisah buaya perompak merupakan sebuah kisah legenda masyarakat tepi sungai Tulang Bawang yang termasuk kedalam provinsi Lampung. Buaya perompak ini sebenarnya adalah jelmaan dari seorang perompak sakti yang biasa merampok orang-orang yang berlayar disungai tersebut dan berikut ini adalah kisahnya.

Pada jaman dahulu, di daerah sekitar sungai Tulang Bawang sangat terkenal akan keganasan buayanya sehingga setiap ada orang yang berlayar disana maupun para penduduk yang tinggal dipinggir sungai Tulang Bawang perlu untuk sangat berhati-hati karena menurut cerita dari mulut kemulut, sudah banyak manusia yang hilang begitu saja disungai tersebut.

Kisah Buaya Perompak Sungai Tulang Bawang Cerita Rakyat Lampung

Pada suatu hari, kejadian yang menyedihkan itu terulang kembali. Orang yang hilang itu adalah seorang gadis yang berwajah cantik rupawan yang bernama Aminah. Anehnya, meskipun penduduk seluruh kampung tepi sungai Tulang Bawang mencarinya, tidak ada jejak yang tertinggal. Sepertinya ia sirna ditelan bumi.

Nun jauh dari tempat kejadian hilangnya gadis tersebut, di dalam sebuah gua besar tergoleklah Aminah. Ia baru saja tersadar dari pingsan-nya. Betapa terkejutnya ia ketika menyadari bahwa gua itu dipenuhi oleh harta benda yang tak ternilai harganya. Ada permata, emas, intan berlian, maupun pakaian yang indah-indah. 

Harta benda yang jumlahnya sangat banyak itu bahkan hingga mengeluarkan sinar yang berkilauan.

Belum habis rasa takjubnya, dari sudut gua terdengarlah sebuah suara yang besar, "janganlah kamu takut gadis rupawan, meskipun aku berwujud buaya, sebenarnya aku adalah manusia sepertimu juga. Aku dikutuk menjadi buaya karena perbuatanku dulu yang sangat jahat. Namaku dulu adalah Somad, perampok ulung di sungai Tulang Bawang.

Dulu aku selalu merampok setiap saudagar yang berlayar disini. Semua hasil rampokanku kusimpan dalam gua ini. Kalau aku butuh makanan maka harta itu kujual sedikit di pasar didesa tepi sungai. Tidak ada seorangpun yang tahu bahwa aku telah membangun terowongan di balik gua ini. Terowongan itu menghubungkan gua ini dengan desa tersebut."

Tanpa disengaja, si buaya perompak tersebut sudah membuka rahasia gua tempat kediamannya. Secara seksama Aminah menyimak dan mengingat keterangan berharga itu. Buaya itu selalu memberinya hadiah perhiasan. Harapannya adalah agar Aminah mau tetap tinggal bersamanya. Namun keinginan Aminah untuk segera kembali ke kampung halamannya makin menjadi-jadi.

Pada suatu hari, buaya perompak tersebut sedikit lengah. Ia tertidur dan meninggalkan pintu guanya terbuka. Si Aminah pun keluar sambil berjingkat-jingkat. Di balik gua itu ditemukannya sebuah terowongan yang sempit.

Setelah cukup lama menelusuri terowongan itu, tiba-tiba ia melihat sinar matahari. Betapa gembiranya ia ketika keluar dari mulut terowongan itu. Disana Aminah ditolong oleh penduduk desa yang mencari rotan. 

Aminah kemudian memberi mereka hadiah sebagian perhiasan yang dibawanya. Aminah akhirnya bisa kembali ke desanya dengan selamat. Ia pun selanjutnya hidup tenteram disana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar