Dongeng Sangkuriang

Dongeng Sangkuriang adalah sebuah cerita rakyat yang berasal dari daerah Jawa Barat, dongeng ini telah diceritakan secara turun temurun oleh masyarakat Jawa Barat yang dikenal sebagai masyarakat suku Sunda.

Cerita rakyat daerah Jawa Barat ini kemudian menjadi legenda dan terdapat pada sebuah naskah kuno yang ditulis diatas daun lontar yaitu naskah Bujangga Manik yang diperkirakan berasal dari abad 15 Masehi.

Terdapat beberapa versi dari dongeng Sangkuriang ini dan dibawah ini adalah salah satunya, selamat membaca !.

gambar ilustrasi dongeng cerita rakyat sangkuriang

Cerita Legenda Rakyat Sangkuriang


Pada jaman dahulu kala, di sebuah daerah di Jawa Barat hiduplah seorang putri raja yang bernama Dayang Sumbi. Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Sangkuriang. Anak tersebut sangat gemar berburu di dalam hutan. 

Setiap berburu, dia selalu ditemani oleh anjing kesayangannya yang bernama Tumang. Tumang sebenarnya adalah titisan dewa, dan juga bapak kandung dari Sangkuriang, tetapi Sangkuriang tidak mengetahui hal tersebut dan ibunya memang sengaja merahasiakan hal tersebut.

 Pada suatu hari, seperti biasanya Sangkuriang pergi ke hutan untuk berburu. Sesampainya di dalam hutan, Sangkuriang mulai mencari buruan. Dia melihat ada seekor burung yang sedang bertengger di dahan, lalu tanpa berpikir panjang Sangkuriang langsung menembaknya dengan anak panah, dan tepat mengenai sasaran. 

Sangkuriang lalu memerintah Tumang untuk mengejar buruannya tadi, tetapi si Tumang diam saja dan tidak mau mengikuti perintah Sangkuriang. Karena sangat jengkel pada Tumang, maka Sangkuriang lalu mengusir Tumang dan tidak diijinkan-nya pulang ke rumah bersamanya lagi.

Sesampainya di rumah, Sangkuriang menceritakan kejadian tersebut kepada ibunya. Begitu mendengar cerita dari anaknya, Dayang Sumbi sangat marah. 

Diambilnya sendok nasi, dan dipukulkan ke kepala Sangkuriang. Karena merasa kecewa dengan perlakuan ibunya, maka Sangkuriang memutuskan untuk pergi mengembara, dan meninggalkan rumahnya. 

Setelah kejadian itu, Dayang Sumbi sangat menyesali perbuatannya. Ia berdoa setiap hari, dan meminta agar suatu hari dapat bertemu dengan anaknya kembali. Karena kesungguhan dari doa Dayang Sumbi tersebut, maka Dewa memberinya sebuah hadiah berupa kecantikan abadi dan usia muda selamanya.

Setelah bertahun-tahun lamanya Sangkuriang mengembara, akhirnya ia berniat untuk pulang ke kampung halamannya. Sesampainya di sana, dia sangat terkejut sekali, karena kampung halamannya sudah jauh berubah. 

Rasa senang Sangkuriang tersebut semakin bertambah ketika saat di tengah jalan bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik jelita, yang tidak lain adalah Dayang Sumbi. Karena terpesona dengan kecantikan wanita tersebut, maka Sangkuriang langsung melamarnya. 

Akhirnya lamaran Sangkuriang diterima oleh Dayang Sumbi, dan sepakat akan menikah di waktu dekat. Pada suatu hari, Sangkuriang meminta ijin calon istrinya untuk berburu di hutan. Sebelum berangkat, ia meminta Dayang Sumbi untuk mengencangkan dan merapikan ikat kepalanya. 

Alangkah terkejutnya Dayang Sumbi, karena pada saat dia merapikan ikat kepala Sangkuriang, Ia melihat ada bekas luka. Bekas luka tersebut mirip dengan bekas luka anaknya. Setelah bertanya kepada Sangkuriang tentang penyebab lukanya itu, Dayang Sumbi bertambah tekejut, karena ternyata benar bahwa calon suaminya tersebut adalah anaknya sendiri.

Dayang Sumbi sangat bingung sekali, karena dia tidak mungkin menikah dengan anaknya sendiri. Setelah Sangkuriang pulang berburu, Dayang Sumbi mencoba berbicara kepada Sangkuriang, supaya Sangkuriang membatalkan rencana pernikahan mereka. Permintaan Dayang Sumbi tersebut tidak disetujui Sangkuriang, dan hanya dianggap angin lalu saja.

Setiap hari Dayang Sumbi berpikir bagaimana cara agar pernikahan mereka tidak pernah terjadi. Setelah berpikir keras, akhirnya Dayang Sumbi menemukan cara terbaik. Dia mengajukan dua buah syarat kepada Sangkuriang. 

Apabila Sangkuriang dapat memenuhi kedua syarat tersebut, maka Dayang Sumbi mau dijadikan istri, tetapi sebaliknya jika gagal maka pernikahan itu akan dibatalkan. 

Syarat yang pertama Dayang Sumbi ingin supaya sungai Citarum dibendung. 

Syarat yang kedua adalah, meminta Sangkuriang untuk membuat sampan yang sangat besar untuk menyeberangi sungai. 

Kedua syarat itu harus sudah selesai dibuat sebelum fajar menyingsing.

Sangkuriang menyanggupi kedua permintaan Dayang Sumbi tersebut, dan berjanji akan menyelesaikannya sebelum fajar menyingsing. Dengan kesaktian yang dimilikinya, Sangkuriang lalu mengerahkan teman-temannya dari bangsa jin untuk membantu menyelesaikan tugasnya tersebut. 

Diam-diam, Dayang Sumbi mengintip hasil kerja dari Sangkuriang. Betapa terkejutnya dia, karena Sangkuriang hampir menyelesaiklan semua syarat yang diberikan Dayang Sumbi sebelum fajar.

Dayang Sumbi lalu meminta bantuan masyarakat sekitar untuk menggelar kain sutera berwarna merah di sebelah timur kota. Ketika melihat warna memerah di timur kota, Sangkuriang mengira kalau hari sudah menjelang pagi. 

Sangkuriang langsung menghentikan pekerjaannya dan merasa tidak dapat memenuhi syarat yang telah diajukan oleh Dayang Sumbi.

Dengan rasa jengkel dan kecewa, Sangkuriang lalu menjebol bendungan yang telah dibuatnya sendiri. Karena jebolnya bendungan itu, maka terjadilah banjir dan seluruh kota terendam air, daerah itu kemudian menjadi danau besar yang sekarang dikenal dengan nama danau Bandung. 

Sangkuriang juga menendang sampan besar yang telah dibuatnya. Sampan itu melayang dan jatuh tertelungkup, lalu menjadi sebuah gunung yang sekarang dikenal dengan nama gunung Tangkuban Perahu.

Salah satu hikmah yang bisa diambil dari dongeng Sangkuriang ini adalah jangan sekali-kali melakukan kekerasan kepada anak-anak karena bukan hanya akan melukai tubuh mereka saja tetapi juga akan melukai jiwa mereka.

Jika anda menyukai cerita rakyat Sangkuriang ini, silahkan share melalui tombol social bookmarking yang telah saya siapkan dibawah karena mungkin akan berguna bagi teman anda yang lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar